Sulfonamida (obat)

Sulfonamida (atau sering juga disebut obat sulfa) merupakan golongan obat-obatan yang memiliki gugus fungsi sulfonamida. Golongan obat ini ada yang memiliki sifat antimikroba dan ada juga yang tidak. Obat sulfa yang tidak memiliki aktivitas antibakteri misalnya sultiam yang digunakan sebagai antikonvulsan, juga sulfonilurea dan diuretik tiazid.[1][2]

Gugus fungsi sulfonamida
Hidroklortiazid merupakan sulfonamida dan tiazid.
Furosemid merupakan sulfonamida, tetapi bukan tiazid.
Sulfametoksazol merupakan sulfonamida yang bersifat antibakteri.

Alergi terhadap sulfonamid sering terjadi. Insiden keseluruhan dari reaksi obat yang merugikan terhadap antibiotik sulfa adalah sekitar 3%, atau angka ini dekat dengan kejadian alergi karena penisilin; maka obat yang mengandung sulfonamida diresepkan dengan hati-hati. Beberapa obat atau bahan tambahan makanan mengandung belerang seperti sulfat dan sulfit, tetapi secara kimiawi tidak terkait dengan gugus sulfonamida, sehingga tidak menyebabkan reaksi hipersensitivitas yang sama seperti yang terlihat pada sulfonamida.

Saat ini, sulfonamida jarang diresepkan di negara-negara maju, tetapi sulfonamid masih merupakan obat antimikroba yang umum di negara berkembang karena harganya yang murah.[3]:414–416[4]:337–343

Fungsi

Antimikroba

Sulfonamida yang bersifat antimikroba dapat mengganggu pertumbuhan bakteri (namun tidak sampai membunuhnya). Cara kerja seperti ini dinamakan bakteriostatik. Caranya dengan menjadi pengganggu (inhibitor kompetitif) enzim dihidropteroate sintase (DHPS), enzim yang terlibat dalam pembuatan (sintesis) asam folat pada bakteri. Pada manusia, berbeda dengan bakteri, mendapatkan folat (vitamin B9) dari makanan, sehingga senyawa sulfonamida tidak memengaruhi proses pada tubuh manusia.[5]

Kesamaan struktural antara sulfonamid (kiri) dan PABA (tengah) adalah dasar untuk aktivitas penghambatan obat sulfa pada biosintesis tetrahidrofolat (kanan)

Penggunaan lain

Sulfonamid digunakan untuk mengobati alergi dan batuk, serta fungsi antijamur dan antimalaria. Golongan obat ini juga terdapat dalam obat lain yang bukan antimikroba, termasuk diuretik tiazid (termasuk hidroklorotiazid, metolazon, dan indapamide), diuretik loop (termasuk furosemid, bumetanid, dan torsemid), asetazolamid, sulfonilurea (termasuk glipizid, gliburid atau glibenklamid), dan beberapa penghambat COX-2 (misalnya selekosib).

Sulfasalazin, selain digunakan sebagai antibiotik, juga digunakan dalam pengobatan penyakit radang usus.

Sejarah

Obat sulfonamida pertama bermerek dagang Prontosil. Penelitian mengenai protonsil ini dimulai pada 1932 pada laboratorium Bayer AG. Sebelumnya diketahui bahwa ada zat pewarna tertentu yang secara khusus hanya mengincar untuk menempel pada sel bakteri (tidak pada sel yang lain). Tim peneliti ini mencoba mencari zat pewarna yang tidak hanya dapat mengincar sel bakteri, tetapi juga membunuhnya.

Setelah bertahun tahun mencoba ratusan jenis zat pewarna, tim peneliti yang diketuai oleh Gerhard Domagk[6] akhirnya berhasil menemukannya. Sebuah zat pewarna merah yang dibuat oleh kimiawan Bayer Josef Klarer dapat menghentikan infeksi bakteri pada tikus.[7]

Bayer kemudian memberi nama obat tersebut dengan nama Protonsil. Obat ini merupakan obat pertama yang dapat secara efektif mengatasi infeksi bakteri di dalam tubuh. Namun, obat ini tidak memiliki efek sama sekali jika dilakukan percobaan pada tabung reaksi. Penelitian selanjutnya oleh Bovet,[8] Federico Nitti dan J. dan Th. Jacques Tréfouël, Prancis, sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh Ernest Fourneau di Pasteur Institute, mengungkapkan bahwa obat tersebut diproses dalam tubuh (dimetabolisme) berubah menjadi zat aktif sulfanilamid.[9] Hal ini menjelaskan mengapa obat tersebut tidak aktif pada tabung reaksi dan hanya beraksi pada makhluk yang masih hidup.

Sediaan

Sulfonamida dihasilkan oleh reaksi sulfonil klorida dengan amonia atau amina. Sulfonamid tertentu (sulfadiazin atau sulfametoksazol) kadang-kadang dicampur dengan obat trimetoprim, yang bekerja menghambat aktivitas enzim dihidrofolat reduktase. Pada tahun 2013, Republik Irlandia adalah eksportir terbesar sulfonamida di seluruh dunia.[10]

Daftar obat mengandung gugus sulfonamida

Obat antibakteri untuk anak-anak

  • Sulfafurazole (dalam Pediazole)[11]

Antimikroba

Aksi cepat[12]
  • Sulfasetamid
  • Sulfadiazin
  • Sulfadimidin
  • Sulfafurazol (sulfisoksazol)
  • Sulfisomidin (sulfaisodimidin)
Aksi sedang
Aksi panjang
  • Sulfadimetoksin
  • Sulfametoksipiridazin
  • Sulfametoksidiazin
Aksi sangat panjang
  • Sulfadoksin
  • Sulfametopirazin
  • Tereftil

Sulfonilurea (obat anti-diabetes)

Diuretik

Antikonvulsan atau antikejang

  • Ethoxzolamide
  • Sultiame
  • Zonisamide

Obat untuk kulit

  • Mafenide

Antiretroviral

  • Amprenavir (HIV protease inhibitor)
  • Darunavir (HIV protease inhibitor)
  • Delavirdine (non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor)
  • Fosamprenavir (HIV protease inhibitor)
  • Tipranavir (HIV protease inhibitor)

Hepatitis C antiviral

  • Asunaprevir (NS3/4A protease inhibitor)
  • Beclabuvir (NS5B RNA polymerase inhibitor)
  • Dasabuvir (NS5B RNA polymerase inhibitor)
  • Grazoprevir (NS3/4A protease inhibitor)
  • Paritaprevir (NS3/4A protease inhibitor)
  • Simeprevir (NS3/4A protease inhibitor)

Stimulan

  • Azabon

Lain-lain

  • Apricoxib (penghambat COX-2)
  • Bosentan (antagonis reseptor endothelin)
  • Brinzolamide (penghambat karbonik anhidrase untuk obat glaukoma)
  • Celecoxib (penghambat COX-2)
  • Dofetilide (obat antiaritmia kelas III)
  • Dorzolamide (penghambat karbonik anhidrase untuk obat glaukoma)
  • Dronedarone (obat antiaritmia kelas III)
  • Ibutilide (obat antiaritmia kelas III)
  • Parecoxib (penghambat COX-2)
  • Probenecid (uricosuric)
  • Sotalol (β blocker)
  • Sulfasalazine (obat anti-inflamasi dan suatu DMARD)
  • Sumatriptan (antimigrain triptan)
  • Tamsulosin (α blocker)
  • Udenafil (penghambat PDE5)

Reaksi tidak diinginkan

Sulfonamida berpotensi menyebabkan berbagai reaksi yang tidak diinginkan, termasuk gangguan saluran kemih, gangguan hemopoietik, porfiria, dan reaksi hipersensitivitas. Ketika digunakan dalam dosis besar, sulfonamida dapat menyebabkan reaksi alergi yang kuat. Reaksi alergi paling serius dapat diklasifikasikan sebagai i) reaksi merugikan kulit yang parah (severe cutaneous adverse reaction, SCAR) seperti sindrom Stevens-Johnson, nekrolisis epidermal toksik (juga dikenal sebagai sindrom Lyell), sindrom DRESS; ii) reaksi SCAR yang tidak cukup serius misalnya pustulosis eksamentosa umum akut (acute generalized exanthematous pustulosis, AGEP). Salah satu dari SCAR ini dapat dipicu oleh sulfonamida tertentu.[13]

Sekitar 3% dari populasi umum mengalami reaksi merugikan ketika diobati dengan antimikroba sulfonamida. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa pasien dengan HIV memiliki prevalensi yang jauh lebih tinggi sekitar 60%.[14]

Reaksi hipersensitivitas lebih jarang terjadi pada sulfonamida non-antibiotik, dan meskipun kontroversial, bukti yang ada menunjukkan bahwa orang-orang yang mengalami hipersensitivitas terhadap antibiotik sulfonamid tidak memiliki peningkatan risiko reaksi hipersensitivitas terhadap agen non-antibiotik.[15] Komponen kunci untuk respons alergi terhadap antibiotik sulfonamid adalah gugus arilamin pada N4, yang ditemukan di sulfametoksazol, sulfasalazin, sulfadiazin, dan anti-retroviral amprenavir dan fosamprenavir. Obat sulfonamid lainnya tidak mengandung gugus arilamin ini; bukti yang ada menunjukkan bahwa pasien yang alergi terhadap arilamin sulfonamid tidak bereaksi silang terhadap sulfonamida tanpa gugus arilamin, dan karenanya dapat dengan aman menggunakan sulfonamida non-arilamin.[16] Oleh karena itu, pendapat bahwa istilah "alergi sulfonamid" atau "alergi sulfa" adalah menyesatkan, dan harus diganti dengan referensi pada obat tertentu (misal "alergi kotrimoksazol").[17]

Dua daerah dari struktur kimia antibiotik sulfonamid yang terlibat dalam reaksi hipersensitivitas:

  • Daerah pertama adalah cincin heterosiklik N1, yang menyebabkan reaksi hipersensitivitas tipe I.
  • Daerah kedua adalah nitrogen amino N4 yang dalam proses stereospesifik, membentuk metabolit reaktif yang menyebabkan sitotoksisitas langsung atau respons imunologis.

Sulfonamida non-antibiotik tidak memiliki kedua struktur ini.[18]

Manifestasi paling umum dari reaksi hipersensitif terhadap obat sulfa adalah ruam dan gatal-gatal. Namun, ada beberapa manifestasi hipersensitivitas terhadap obat sulfa yang mengancam jiwa, termasuk sindrom Stevens-Johnson, nekrolisis epidermal toksik, agranulositosis, anemia hemolitik, trombositopenia, nekrosis hepatik fulminan, dan pankreatitis akut.[19]

Referensi