Covid-19

penyakit menular pada manusia yang disebabkan oleh SARS Coronavirus 2
(Dialihkan dari Penyakit koronavirus 2019)

Covid-19 atau Penyakit koronavirus 2019 (Inggris: corona virus disease 2019, disebut juga sebagai COVID-19)[8][9] adalah penyakit menular yang disebabkan oleh SARS-CoV-2, salah satu jenis koronavirus.[10][11] Penyakit ini mengakibatkan pandemi.[12][13] Penderita Covid-19 dapat mengalami demam, batuk kering, dan kesulitan bernapas.[6][14][15] Sakit tenggorokan, pilek, atau bersin-bersin lebih jarang ditemukan.[16] Pada penderita yang paling rentan, penyakit ini dapat berujung pada pneumonia dan kegagalan multiorgan.[12][13]

Penyakit koronavirus 2019
Gejala COVID-19
Informasi umum
Nama lain
SpesialisasiPenyakit menular, pulmonologi
PenyebabSARS-CoV-2
Aspek klinis
Gejala dan tandaDemam, batuk, kesulitan bernapas[6]
KomplikasiPneumonia, sindrom gangguan pernapasan akut, gagal ginjal
DiagnosisPCR, imunoasai, pemindaian tomografi terkomputasi
Tata laksana
PencegahanMencuci tangan, memakai masker, karantina, pembatasan sosial[7]
PerawatanPengobatan simtomatik dan suportif

Infeksi menyebar dari satu orang ke orang lain melalui percikan pernapasan dari saluran pernapasan yang sering dihasilkan saat batuk atau bersin.[13][17] Waktu dari paparan virus hingga timbulnya gejala klinis berkisar antara 1–14 hari dengan rata-rata 5 hari.[13][18][19][20] Metode standar diagnosis adalah uji reaksi berantai polimerase transkripsi-balik (rRT-PCR) dari usap nasofaring atau sampel dahak dengan hasil dalam beberapa jam hingga 2 hari. Pemeriksaan antibodi dari sampel serum darah juga dapat digunakan dengan hasil dalam beberapa hari.[21] Infeksi juga dapat didiagnosis dari kombinasi gejala, faktor risiko, dan pemindaian tomografi terkomputasi pada dada yang menunjukkan gejala pneumonia.[22][23]

Mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dari orang yang batuk, dan tidak menyentuh wajah dengan tangan yang tidak bersih adalah langkah yang disarankan untuk mencegah penyakit ini.[24] Disarankan untuk menutup hidung dan mulut dengan tisu atau siku yang tertekuk ketika batuk.[24] Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) merekomendasikan kepada orang-orang yang menduga bahwa mereka telah terinfeksi untuk memakai masker bedah dan mencari nasihat medis dengan memanggil dokter dan tidak langsung mengunjungi klinik. Masker juga direkomendasikan bagi mereka yang merawat seseorang yang diduga terinfeksi tetapi tidak untuk digunakan masyarakat umum.[24][25] Beberapa negara telah berhasil membuat vaksin Covid-19. Namun, masih diteliti dan dikembangkan lebih lanjut. Tata laksana yang diberikan meliputi pengobatan terhadap gejala, perawatan suportif, dan tindakan eksperimental.[26] Angka jumlah kasus diperkirakan antara 1–3%.[27][28]

Tanda dan gejala

Gejala-gejala COVID-19.[29]
GejalaPersentase
Demam87,9%
Batuk kering67,7%
Keletihan38,1%
Produksi dahak33,4%
Sesak napas18,6%
Nyeri otot atau nyeri sendi14,8%
Sakit tenggorokan13,9%
Sakit kepala13,6%
Menggigil11,4%
Mual atau muntah5%
Kongesti hidung4,8%
Diare3,7%
Batuk darah0,9%
Kongesti konjungtiva0,8%

Orang-orang yang terinfeksi mungkin memiliki gejala ringan, seperti demam, batuk, dan kesulitan bernapas.[6][14][15] Pada beberapa kejadian juga ditemukan penderita Covid19 bersifat asimtomatik. Gejala diare atau infeksi saluran napas atas (misalnya bersin, pilek, dan sakit tenggorokan) lebih jarang ditemukan.[16] Kasus dapat berkembang menjadi pneumonia berat, kegagalan multiorgan, dan kematian.[12][13]

Masa inkubasi diperkirakan antara 1–14 hari oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)[13] dan 2–14 hari oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).[18] Tinjauan WHO terhadap 55.924 kasus terkonfirmasi di Tiongkok mengindikasikan tanda dan gejala klinis berikut:[29]

Jalur penyakit dan komplikasi

Ada tiga jalur utama yang mungkin ditempuh penyakit ini. Pertama, penyakit mungkin berbentuk ringan yang menyerupai penyakit pernapasan atas umum lainnya. Jalur kedua mengarah ke pneumonia, yaitu infeksi pada sistem pernapasan bawah. Jalur ketiga, yang paling parah, adalah perkembangan cepat ke sindrom gangguan pernapasan akut (acute respiratory distress syndrome atau ARDS).[30]

Usia yang lebih tua, nilai d-dimer lebih besar dari 1 μg/mL, dan nilai SOFA yang tinggi (skala penilaian klinis yang menilai berbagai organ seperti paru-paru, ginjal, dsb.) diasosiasikan dengan prognosis terburuk. Begitu pula dengan peningkatan level interleukin-6 dalam darah, troponin I jantung sensitivitas tinggi, dehidrogenase laktat, dan limfopenia dikaitkan dengan kondisi penyakit yang lebih parah. Komplikasi Covid-19 adalah sepsis, serta komplikasi jantung seperti gagal jantung dan aritmia. Orang dengan gangguan jantung lebih berisiko mengalami komplikasi jantung. Juga, keadaan hiperkoagulopati tercatat pada 90% penderita pneumonia.[31]

Penyebab

Penyakit ini disebabkan oleh koronavirus sindrom pernapasan akut berat 2 (SARS-CoV-2 atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2). Virus ini menyebar melalui percikan pernapasan dari saluran pernapasan yang dikeluarkan saat sedang batuk atau bersin.[32] Sebuah penelitian di Jepang sedang mempelajari kemungkinan penularan dapat terjadi melalui percikan pernapasan mikro yang melayang-layang di udara. [1] Diarsipkan 2020-10-22 di Wayback Machine.

Paru-paru adalah organ yang paling terpengaruh oleh penyakit ini karena virus memasuki sel inangnya lewat enzim pengubah angiotensin 2 (angiotensin converting enzyme 2 atau ACE2), yang paling banyak ditemukan di dalam sel alveolar tipe II paru. SARS-CoV-2 menggunakan permukaan permukaan sel khususnya yang mengandung glikoprotein yang disebut "spike" untuk berhubungan dengan ACE2 dan memasuki sel inang.[33] Berat jenis ACE2 pada setiap jaringan berhubungan dengan tingkat keparahan penyakit. Diduga, bahwa penurunan aktivitas ACE2 memberikan perlindungan terhadap sel inang karena ekspresi ACE2 yang berlebihan akan menyebabkan infeksi dan replikasi SARS-CoV-2.[34][35] Beberapa penelitian, melalui sudut pandang yang berbeda juga menunjukkan bahwa peningkatan ekspresi ACE2 oleh golongan obat penghambat reseptor angiotensin II akan melindungi sel inang. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut tentang hal ini.[36] ACE2 juga merupakan jalur bagi virus SARS-CoV-2 untuk menyebabkan kerusakan jantung, karenanya penderita dengan riwayat penyakit jantung memiliki prognosis yang paling jelek.[37]

Diagnosis

Kit uji laboratorium CDC untuk Covid-19[38]

WHO telah menerbitkan beberapa protokol pengujian untuk penyakit ini.[39][40] Pengujian menggunakan reaksi berantai polimerase transkripsi-balik secara waktu nyata (rRT-PCR).[41] Spesimen untuk pengujian dapat berupa usap pernapasan atau sampel dahak.[42] Pada umumnya, hasil pengujian dapat diketahui dalam beberapa jam hingga 2 hari.[43][44] Ilmuwan Tiongkok telah mengisolasi galur koronavirus dan menerbitkan sekuens genetika sehingga laboratorium di seluruh dunia dapat mengembangkan uji PCR secara independen untuk mendeteksi infeksi oleh virus.[12][45][46][47]

Pedoman diagnostik yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Zhongnan dari Universitas Wuhan mengusulkan metode untuk mendeteksi infeksi berdasarkan fitur klinis dan risiko epidemiologis. Pedoman ini melibatkan mengidentifikasi pasien yang memiliki setidaknya dua gejala berikut selain riwayat perjalanan ke Wuhan atau kontak dengan pasien lain yang terinfeksi: demam, gambaran pencitraan pneumonia, jumlah sel darah putih normal atau berkurang, atau berkurangnya jumlah limfosit.[48]

Pencegahan

Sebuah ilustrasi efek penyebaran infeksi dalam jangka waktu yang panjang. Jika tindakan pencegahan dilakukan secara optimal, lonjakan penularan infeksi dapat ditahan. Hal tersebut membuat tenaga medis tidak kewalahan dalam menghadapi pasien dengan jumlah besar.[49][50][51]
Upaya alternatif mengatasi penyebaran Covid-19 selain meratakan kurva.[52][53]

Tindakan pencegahan untuk mengurangi kemungkinan infeksi antara lain tetap berada di rumah, menghindari bepergian dan beraktivitas di tempat umum, sering mencuci tangan dengan sabun dan air selama minimum 20 detik, tidak menyentuh mata, hidung, atau mulut dengan tangan yang tidak dicuci, serta mempraktikkan higiene pernapasan yang baik.[54][55] CDC merekomendasikan untuk menutup mulut dan hidung dengan tisu saat batuk atau bersin dan menggunakan bagian dalam siku jika tidak tersedia tisu.[54] Mereka juga merekomendasikan higiene tangan yang tepat setelah batuk atau bersin.[54] Strategi pembatasan fisik diperlukan untuk mengurangi kontak antara orang yang terinfeksi dengan kerumunan besar seperti dengan menutup sekolah dan kantor, membatasi perjalanan, dan membatalkan pertemuan massa dalam jumlah besar.[56] Perilaku pembatasan fisik juga meliputi menjaga jarak dengan orang lain sejauh 6 kaki (sekitar 1,8 meter).[57]

Karena vaksin untuk SARS-CoV-2 baru tersedia paling cepat 2021,[58] hal penting dalam penanganan pandemi penyakit koronavirus 2019 adalah menekan laju penyebaran virus atau yang dikenal dengan melandaikan kurva epidemi.[50] Hal ini dapat menurunkan risiko tenaga medis kewalahan dalam menghadapi lonjakan jumlah pasien, memungkinkan perawatan yang lebih baik bagi penderita, dan memberikan waktu tambahan hingga obat dan vaksin dapat tersedia dan siap digunakan.[50]

Berdasarkan WHO, penggunaan masker hanya direkomendasikan untuk orang yang sedang batuk atau bersin atau yang sedang menangani pasien terduga.[59] Di sisi lain, beberapa negara merekomendasikan individu sehat untuk memakai masker, terutama Tiongkok,[60] Hong Kong, dan Thailand.

Untuk mencegah penyebaran virus, CDC merekomendasikan untuk pasien agar tetap berada di dalam rumah, kecuali untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit. Sebelum ingin mendapatkan perawatan, pasien harus menghubungi rumah sakit. Selain itu, CDC merekomendasikan untuk menggunakan masker ketika berhadapan dengan orang atau berkunjung ke tempat yang diduga terdapat penyakit koronavirus, menutup mulut dengan tisu ketika batuk dan bersin, rutin mencuci tangan dengan sabun dan air, serta menghindari berbagi alat rumah tangga pribadi.[61][62] CDC juga merekomendasikan untuk mencuci tangan minimal selama 20 detik, terutama setelah dari toilet, ketika tangan kotor, sebelum makan, dan setelah batuk atau bersin. Lalu, rekomendasi berikutnya adalah menggunakan penyanitasi tangan dengan kandungan alkohol minimal 60% jika tidak tersedia sabun dan air.[63] WHO menyarankan agar menghindari menyentuh mata, hidung, atau mulut dengan tangan yang belum dicuci.[64] Meludah di sembarang tempat juga harus dihindari.[65] Belakangan baik WHO, CDC, serta beberapa negara seperti Indonesia merekomendasikan penggunaan masker kain bagi semua orang yang terpaksa berkegiatan di luar rumah, dengan tetap mengutamakan penggunaan masker medis bagi orang-orang yang sangat membutuhkan (seperti pekerja fasilitas kesehatan, dokter, dan seterusnya). [2] [3]

Pengendalian

Penderita dirawat dengan terapi suportif, seperti terapi cairan, pemberian oksigen, dan terapi organ vital lain yang terdampak.[66][67][68] CDC merekomendasikan bagi orang-orang yang mencurigai diri mereka membawa virus agar memakai masker.[62] Oksigenasi membran ekstrakorporeal (ECMO) digunakan untuk mengatasi gagal napas, tetapi manfaatnya masih dalam pertimbangan.[69][70] Higiene diri serta gaya hidup dan diet yang sehat direkomendasikan untuk meningkatkan imunitas.[71] Terapi suportif mungkin bermanfaat bagi mereka yang memiliki gejala ringan pada tahap awal infeksi.[72] WHO, Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok, dan Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat (NIH) telah menerbitkan rekomendasi perawatan penderita Covid-19 di rumah sakit.[73][74][75]

Pengobatan

Per April 2020, WHO menyatakan tidak ada pengobatan khusus untuk Covid-19.[13] Pada 1 Mei 2020, Amerika Serikat memberikan Otorisasi Penggunaan Darurat (bukan persetujuan penuh) untuk remdesivir pada penderita Covid-19 yang dirawat di rumah sakit dengan tingkat penyakit yang parah setelah sebuah penelitian menyarankan bahwa penggunaaannya dapat mengurangi durasi pemulihan.[76][77] Para peneliti terus mencari obat yang lebih efektif dan banyak kandidat vaksin sedang dalam tahap pengembangan atau pengujian.

Untuk meredakan gejala demam, beberapa profesional medis merekomendasikan parasetamol (asetaminofen) dibandingkan ibuprofen untuk penggunaan lini pertama.[78][79][80] WHO dan NIH tidak menentang penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen untuk meredakan gejala,[74][81] sedangkan FDA menyatakan saat ini tidak ada bukti bahwa NSAID memperburuk gejala Covid-19.[82]

Meskipun muncul kekhawatiran secara teoritis tentang inhibitor ACE dan pengeblok reseptor angiotensin, pada 19 Maret 2020, kekhawatiran ini tidak cukup untuk membenarkan penghentian obat-obatan ini.[74][83][84] Penelitian pada 22 April menemukan bahwa orang-orang dengan Covid-19 dan hipertensi memiliki angka kematian yang lebih rendah karena penggunaan obat-obatan ini.[85]

Steroid, seperti metilprednisolon, tidak dianjurkan kecuali penyakitnya dipersulit oleh sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS).[86][87]

Perhimpunan Imunologi Klinis dan Alergi Australasia merekomendasikan bahwa tosilizumab perlu dipertimbangkan sebagai pilihan pengobatan bagi mereka yang mengalami ARDS yang terkait dengan Covid-19. Rekomendasi ini dilakukan karena obat ini diketahui bermanfaat dalam badai sitokin yang disebabkan oleh pengobatan kanker tertentu, dan bahwa badai sitokin mungkin merupakan kontributor signifikan terhadap kematian pada Covid-19 yang berat.[88]

Obat untuk mencegah pembekuan darah juga disarankan,[89] dan terapi antikoagulan menggunakan heparin dengan berat molekul rendah dihubungkan dengan hasil yang lebih baik pada penderita Covid-19 berat, yang menunjukkan tanda-tanda koagulopati (peningkatan D-dimer).[90]

Prognosis

Data awal pada 137 pasien yang dirawat di rumah sakit di provinsi Hubei ditemukan bahwa 12% pasien (16 orang) meninggal.[91] Di antara mereka yang meninggal, banyak yang memiliki riwayat kondisi penyakit yang sudah ada sebelumnya, termasuk hipertensi, diabetes, atau penyakit kardiovaskular.[92]

Pada kasus-kasus awal yang mengakibatkan kematian, median waktu dari penyakit tersebut adalah 14 hari dengan rentang total dari 6 hingga 41 hari.[93]

Imunitas

Penelitian tentang imunitas pascainfeksi dilakukan pada 4 orang penderita positif Covid-19 (1 penderita dirawat inap dan 3 penderita dikarantina di rumah, keempatnya petugas medis). Pertama kali terdiagnosis, 3 di antaranya menunjukkan gejala batuk dan demam, yang seorang lagi tidak bergejala. Hasil pemeriksaan tomografi terkomputasi, semuanya memberikan gambaran pneumonia. Keempatnya di bawah pengawasan Rumah Sakit Zhongnan Universitas Wuhan, Wuhan, Cina, dari 1 Januari 2020 hingga 15 Februari 2020 dan menerima pengobatan antivirus oral, oseltamivir 2 kali sehari. Keempat penderita dievaluasi dengan tes RT-PCR untuk asam nukleat Covid-19 untuk menentukan apakah mereka boleh kembali bekerja. Kriteria kembali bekerja yang ditetapkan adalah suhu tubuh normal selama tiga hari berturut-turut, sembuh dari gejala saluran napas, perbaikan hasil tomografi terkomputasi dada yang sebelumnya memperlihatkan gambaran eksudat di paru-paru, dan hasil RT-PCR yang negatif dengan dua pemeriksaan berturut-turut dengan jarak satu hari. Hasilnya tes RT-PCR negatif dalam dua pemeriksaan berturut-turut, dengan jarak antara pertama kali timbul gejala dan penyembuhan antara 12 hari hingga 32 hari. Setelah keluar dari rumah sakit dan setelah masa karantina di rumah (untuk 3 penderita) selesai dan hasil RT-PCR telah menunjukkan hasil negatif, mereka melanjutkan karantina di rumah selama 5 hari. Pemeriksaan RT-PCR diulangi lagi setelah 5 hingga 13 hari kemudian dan menunjukkan hasil positif (pemeriksaan menggunakan kit uji dari pabrik yang berbeda juga menunjukkan hasil yang sama). Tidak ada keluhan secara klinis, hasil tomografi terkomputasi sama seperti hasil pemeriksaan yang terakhir, tidak ada kontak dengan orang lain yang memiliki gejala gangguan saluran pernapasan, dan tidak ada anggota keluarga dari keempat penderita yang terinfeksi. Hal ini menunjukkan seorang penderita yang sudah menunjukkan hasil negatif dengan pemeriksaan RT-PCR sebelumnya, masih memiliki kemungkinan untuk menjadi pembawa sifat. Sampel penelitian ini terbatas dalam jumlah kecil. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan kohor (kelompok) yang lebih besar dan dari latar belakang pekerjaan yang berbeda untuk menetapkan prognosis penyakit ini.[94]

Epidemologi

Angka mortalitas dan morbiditas secara keseluruhan karena infeksi virus belum ditetapkan dengan baik; sementara tingkat fatalitas kasus berubah dari waktu ke waktu dalam pandemi koronavirus ini. Perbandingan infeksi yang berkembang menjadi penyakit yang dapat didiagnosis tetap tidak jelas.[95][96] Namun, penelitian pendahuluan telah menghasilkan tingkat kematian kasus antara 2% hingga 3%[97] dan WHO mengusulkan bahwa tingkat kematian kasus adalah sekitar 3% pada Januari 2020.[98] Sebuah studi pra-cetak Imperial College London pada 55 kasus fatal mencatat bahwa perkiraan awal kematian mungkin terlalu tinggi karena infeksi asimptomatik tidak terjawab. Mereka memperkirakan rasio fatalitas infeksi rata-rata (mortalitas di antara yang terinfeksi) berkisar dari 0,8% ketika termasuk pembawa asimptomatik hingga 18% ketika hanya memasukkan kasus simptomatik dari provinsi Hubei.[99]

Penelitian

Vaksin

Banyak organisasi menggunakan genom yang diterbitkan untuk mengembangkan kemungkinan vaksin terhadap SARS-CoV-2.[100][101] Badan yang mengembangkan vaksin terdiri dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok,[102][103] Universitas Hong Kong,[104] dan Rumah Sakit Shanghai Timur.[104] Tiga proyek vaksin ini sedang didukung oleh Koalisi Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI), termasuk satu proyek perusahaan bioteknologi Moderna dan proyek lainnya oleh Universitas Queensland Australia.[105] Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat (NIH) bekerja sama dengan Moderna untuk membuat vaksin RNA yang cocok dengan protein permukaan (protein spike) koronavirus dan diharapkan untuk memulai produksi pada Mei 2020.[100] Di Australia, Universitas Queensland sedang menyelidiki potensi vaksin penjepit molekuler yang secara genetik akan memodifikasi protein virus untuk membuatnya meniru koronavirus dan merangsang reaksi kekebalan.[105] Di Kanada, Pusat Vaksin Internasional (VIDO-InterVac) di Universitas Saskatchewan mulai mengembangkan vaksin[106] serta menargetkan produksi vaksin dan pengujian terhadap hewan pada Maret 2020 dan pengujian terhadap manusia pada 2021.[106]

Pada akhir Januari 2020, Janssen Pharmaceutica mulai bekerja mengembangkan vaksin dengan memanfaatkan teknologi yang sama yang digunakan untuk membuat percobaan vaksin Ebola.[107] Pada bulan berikutnya, Badan Penelitian dan Pengembangan Biomedis Lanjutan Kementerian Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat (BARDA) mengumumkan bahwa mereka akan berkolaborasi dengan Janssen dan Sanofi Pasteur (Divisi vaksin Sanofi) untuk mengembangkan vaksin.[108][109] Sanofi sebelumnya telah mengembangkan vaksin untuk SARS dan mulai berharap memiliki calon vaksin dalam waktu enam bulan yang dapat siap untuk diuji pada orang dalam satu tahun hingga 18 bulan.[108]

Antivirus

Penelitian tentang perawatan potensial untuk penyakit ini dimulai pada Januari 2020 dan beberapa obat antivirus sudah dalam uji klinis.[100][101] Meskipun obat yang benar-benar baru mungkin membutuhkan waktu hingga 2021 untuk berkembang,[110] beberapa obat yang sedang diuji sudah disetujui untuk indikasi antivirus lain atau sudah dalam pengujian lanjutan.[101] Antivirus yang diuji seperti inhibitor RNA polimerase remdesivir,[111][112][113] interferon beta,[113] triazavirin,[114] klorokuin, dan kombinasi lopinavir/ritonavir (Kaletra).[101][115] Obat lain yang sedang diuji termasuk galidesivir, antivirus spektrum luas yang merupakan inhibitor RNA polimerase nukleosida; REGN3048-3051 (Regeneron), kombinasi dua antibodi monoklonal penawar; darunavir/cobicistat, obat yang disetujui untuk HIV; dan PRO 140, sebuah penelitian tentang pengobatan potensial untuk penyakit ini dimulai pada Januari 2020 dan beberapa obat antivirus sudah dalam uji klinis.[100][101] Karena memiliki efek terhadap koronavirus lainnya[116][117] dan mode tindakan yang menunjukkan pengobatan tersebut mungkin efektif,[118] kombinasi lopinavir/ritonavir telah menjadi target penelitian dan analisis yang signifikan.

Penamaan

Pada 11 Februari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia mengumumkan bahwa "Covid-19" menjadi nama resmi dari penyakit ini. Direktur Organisasi Kesehatan Dunia, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa co adalah singkatan dari "corona" (korona), vi untuk "virus", d untuk "disease" (penyakit), dan "19" untuk tahun pertama kali diidentifikasi (2019). Tedros mengatakan bahwa nama tersebut dipilih untuk menghindari referensi ke lokasi geografis tertentu, spesies hewan atau kelompok orang sesuai dengan rekomendasi internasional untuk penamaan dalam mencegah stigmatisasi.[119]

Tidak seperti WHO yang menggunakan huruf kapital semua (COVID-19), Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutnya sebagai akronim dan tunduk pada ketentuan penulisan akronim, yaitu tidak memakai huruf kapital semua.[120]

Sejarah

Virus penyebab Covid-19 diyakini secara alami dari hewan yaitu kelelawar melalui infeksi spillover dan menyebar ke manusia melalui inang perantara satwa liar.[121] filogenetika memperkirakan bahwa SARS-CoV-2 muncul pada bulan Oktober atau November 2019.[122][123]

Sebuah studi terhadap 41 kasus pertama Covid-19 yang telah dikonfirmasi, yang melaporkan tanggal paling awal timbulnya gejala pada 1 Desember 2019. Terjadinya infeksi manusia pertama dilaporkan di Wuhan, Hubei, Cina.[124] WHO sebagai Organisasi Kesehatan Dunia mempublikasikan pelaporan timbulnya gejala paling awal terjadi pada tanggal 8 Desember 2019.[125] Penularan dari manusia ke manusia telah dikonfirmasi oleh WHO dan otoritas Cina pada 20 Januari 2020.[126]

Menurut sumber resmi Tiongkok, kasus-kasus awal sebagian besar terkait dengan Pasar Grosir Makanan Laut Huanan, yang juga menjual hewan hidup.[127] Sampel hewan yang dikumpulkan dari pasar makanan laut telah dites oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat menunjukkan hasil negatif. Dari hasil tersebut dapat diindikasikan bahwa tempat itu memang menjadi tempat penyebaran virus pertama namun bukan tempat asal virus itu sendiri.[128] Selain itu, pada tanggal 18 Desember 2019 bukti lain ditemukan. Telah ditemukan jejak virus yang ada pada sampel limbah di kota Milan dan Turin, Italia.[129]

Lihat pula

  • Li Wenliang, orang pertama di Rumah Sakit Pusat Wuhan yang melaporkan kasus koronavirus di kotanya.
  • Koronavirus

Referensi

Pranala luar

Organisasi kesehatan

Direktori

Jurnal medis

Pedoman pengobatan

Klasifikasi